Rabu, 03 Agustus 2011

Nikmatnya Berhaji Muda

 


Heru Sudjanto

 

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan (juga milik-Mu).”

 

Haji merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu Al Hajj yang artinya menyengaja. Tetapi ada juga yang mengartikan kata al hajj ini sebagai mengunjungi atau berkunjung. Jadi dapat disimpulkan bahwa haji merupakan kegiatan mengunjungi Ka’bah secara sengaja untuk beribadah.

Sedangkan menurut Departemen Agama RI, ibadah Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) di Makkah untuk melakukan amalan-amalan ibadah antara lain wukuf, mabit, thawaf, sa’i dan lainnya pada masa tertentu demi mencapai ridho Allah. Hukum Ibadah Haji adalah wajib bagi orang yang pertama kali melaksanakan (memenuhi rukun Islam), dan bagi orang yang bernazar. Sedangkan bagi yang sudah melaksanakan ibadah haji hukumnya sunnah. Ibadah haji pertama kali disyariatkan pada tahun keenam hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

Bagi yang akan berhaji, harus memenuhi syarat wajib berhaji, yakni :

1.     Islam

2.     Baligh (dewasa)

3.     Berakal sehat

4.     Merdeka (bukan budak)

5.     Istitha’ah (mampu)

Selain syarat wajib haji, juga harus memenuhi rukun haji sebagai berikut :

1.     Berihram

2.     Melakukan Wukuf

Wukuf di padang Arafah bisa diibaratkan berkumpul di padang Makhsyar kelak. Semua hadir dengan pakaian yang sama yakni pakaian ihram. Tidak ada yang berbeda, karena semua status ditinggalkan. Berkumpul dan beribadah, memohon ampun dari segala dosa dan kesalahan untuk mengharapkan rahmat Allah SWt.

3.     Melaksanakan Thawaf

Thawaf atau mengelilingi Ka’bah menggambarkan kehidupan yang selalu berpusat kepada tauhid. Ka’bah melambangkan tauhid, dan orang-orang yang berputar mengelilinginya adalah dinamika kehidupan. Dimanapun sesesorang berada, dalam keadaan apapun, harus berpusat pada tauhid.

4.     Melaksanakan Sa’i

Sai atau berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah mengabadikan usaha yang sungguh-sungguh dan tidak kenal seorang ibu (Siti Hajar) untuk mencari air minum bagi anak bayinya (Ismail).

5.     Memotong Rambut atau Tahallul

6.     Melaksanakan Ibadah dengan Tertib

Apabila tidak melaksanakan salah satu rukun haji tersebut, maka hajinya tidak sah.

Setelah terpenuhi syarat dan ruku haji, juga harus melaksanakan wajib haji :

1.     Ihram haji dari miqat

Ihram adalah niat masuk (mengerjakan) ibadah haji dan umrah dengan menghindari hal-hal yang dilarang selama berihram. Bagi jemaah Indonesia gelombang I, ihram haji dimulai di Bir Ali (Dzul Hulaifah)

2.     Mabit atau bermalam di Muzdalifah

Mabit/bermalam di Muzdalifah waktunya mulai setelah Maghrib sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah dan boleh sesaat asal sudah lewat tengah malam.

3.     Mabit atau bermalam di Mina

4.     Melempar jumrah

Adalah melempar marma (tempat melempar) dengan batu kerikil pada hari Nahr dan hari Tasyriq

5.     Menghindari perbuatan terlarang dalam keadaan berihram

6.     Thawaf wada’

Thawaf wada’ adalah thawaf pamitan bagi yang telah selesai melakukan ibadah haji dan akan meninggalkan Mekkah

Hikmah ibadah haji adalah pertama, ibadah haji merupakan ibadah paling besar dan sesuai tujuan manusia diciptakan Allah SWT.  Kategori ibadah yang paling besar, karena tidak hanya dituntut kesiapan materi saja, tetapi juga secara fisik dan psikis. Tidak diragukan lagi bahwa dalam ibadah haji terkumpul semua aspek ibadah, yakni badaniyah (fisik), maliyah (finansial) dan qalbiyah (hati/mental), yang tidak terdapat dalam ibadah lainnya.

Kedua, Ibadah haji merupakan konferensi kaum muslimin sedunia, untuk saling mengenal satu dengan lainnya, ajang pertemuan berbagai bangsa, bahasa, warna kulit dan sosial budaya yang dimungkinkan terjadinya pertukaran informasi, ekonomi, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Ketiga, ibadah haji merupakan wahana untuk memperkokoh kesatuan dan persatuan kaum muslimin seduani, “Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku.”. (QS. Al-Anbiya (21):92). Secara simbolis ibadah haji menunjukan bahwa kaum muslimin itu adalah umat yang satu, menyembah kepada Allah yang satu (esa), mengikuti nabi yang satu, membaca Al Qur’an yang satu, menghadap ke kiblat yang satu, bertowaf di Baitullah yang satu, berkumpul (wukuf) di tempat yang satu, dan lain sebagainya, yang semua akan lebih menguatkan Al Ukhuwah Al Islamiyah.

Keempat, ibadah haji memberikan kesadaran tentang kesetaraan dan keadilan dalam hak dan kewajiban diantara kaum muslimin. Hal ini ditunjukkan dengan tidak dibeda-bedakannya tata cara manasik haji, berihram, dan lain sebaigainya. Antara yang kaya dengan yang miskin, yang ONH biasa dengan yang plus, tetapi manusia atau kaum muslimin itu akan dibedakan dengan tingkat ketaqwaannya. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”. (QS. Al-Hujurat (49):13).

Kelima, ibadah haji banyak mengingatkan kepada kita tentang perjalanan manusia ke negeri abadi (akhirat). Ibadah haji merupakan rihlah ruhiyah atau pejalanan ruhani yang merupakan miniatur dari perjalanan ke akherat, yang semua manusia pasti akan melaluinya.

Berdasarkan uraian di atas, ibadah haji merupakan ibadah fisik. Dibutuhkan stamina tubuh yang sehat agar dapat melaksanakan rangkaian ibadah haji dengan khusyu’. Berkaitan hal tersebut, sangatlah ideal jika ibadah haji dilakukan saat usia muda. Upaya yang bisa dilakukan agar bisa melaksanakan ibadah haji saat usia muda antara lain mendaftarkan anak atau cucu kita sedini mungkin agar mendapatkan porsi keberangkatan haji. Fisik kuat, Insya Allah menjadikan berhaji sebagai ibadah yang dilaksanakan dengan nikmat. Wallahu’alam bi shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar